Untuk apa Hidupmu saat ini ???



Untuk apa Hidupmu saat ini ???

Hai sahabat, pernahkah anda mendapat pertanyaan “Untuk apa hidupmu di dunia ini?”. Ya, pertanyaan yang kerap muncul di benak dan hati kita. Mungkin akan muncul berbagai argumen dan jawaban terkait pertanyaan tersebut, lantas apakah anda sudah mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut? dan apakah anda sudah yakin dengan jawaban anda ?, apakah anda sudah melaksanakannya?. Mari kita kaji bersama.
Ketahuilah sahabat, bahwasanya Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah (pemimpin)  dimuka bumi, dan untuk beribadah kepadanya. Manusia merupakan makhluk yang diciptakan tuhan dengan kemampuan yang berbeda dan lebih baik dari makhluk lain. Manusia diberi akal pikiran, nurani, nafsu dan kemampuan lain oleh Allah SWT. Allah memberikan kemampuan tersebut untuk digunakan sebaik mungkin. Allah sebagai pencipta alam semesta dan seluruh jagat raya ini untuk kehidupan manusia, maka sudah seharusnya manusia melaksanakan tugasnya dengan kemampuan yang sudah dianugerahkan oleh Allah SWT.
Pada zaman jahiliyah, banyak manusia hidup dalam kebodohan, kegelapan hampir tak memiliki arah karena pada zaman tersebut masih banyak manusia yang menjadi budak, banyak anak perempuan yang dibunuh karena dianggap tidak berguna dan tidak bisa berperang. Zaman jahiliyah (zaman kebodohan, kegelapan) dimana banyak manusia yang menjadi budak belum merdeka, sering terjadi peperangan. Masa yang penuh dengan keprihatinan dan penderitaan, hanya orang-orang tertentu yang berkuasa yang hidup sesuai keinginan mereka. Maka Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai khalifah di muka bumi yang telah membawa manusia dari zaman jahiliyah sampai di zaman yang terang benderang. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW sebagai pedoman umat dan mengatur kehidupan manusia di dunia.
            Sungguh besar perjuangan Rasulullah semasa hidupnya di zaman jahiliyah, beliau berjuang, berdakwah dengan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa, dengan sifat wajib Rasul yakni Siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas). Setelah Rasulullah SAW wafat, diteruskan oleh para sahabat-sahabat beliau, kemudian Tabi’in, tabi’in-tabi’in, dan ulama dalam mendakwahkan Agama Islam dan menyebarkan atau mengamalkan ilmu pengetahuan.
Para pahlawan juga sudah berjuang melawan penjajah, dengan perjuangan yang tidak mudah dan atas Ridha Allah SWT akhirnya Indonesia merdeka. Tentu kita sebagai generasi bangsa harus bisa menjaga negara Indonesia ini, NKRI harga mati !. Maka kita sebagai umat yang hidup di zaman globalisasi ini apakah masih mau bertahan dengan kebodohan? Jahiliyah?. Tentu tidak mau bukan?, Kita hidup di zaman yang modern dimana ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang pesat maka kuncinya adalah dengan “Menuntut ilmu” , ya, terutama menuntut ilmu di jalan Allah SWT, menuntut ilmu agama. Kita diwajibkan untuk menuntut ilmu Sesuai dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr:   
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslimin dan muslimat (H.R. Ibnu Abdil Barr)”
Sudah jelas dalam hadits tesebut, bahwasannya manusia diwajibkan menuntut ilmu, karena dengan ilmu hidup kita akan lebih terarah, teratur dan kita dapat mengerti mana yang baik dan buruk, mana yang halal dan haram. Misalnya ilmu mengenai hukum jual beli, dalam ilmu pengetahuan umum dibahaslah dalam ilmu ekonomi, namun, kita juga tidak boleh hanya mengetahui ilmu ekonomi dari segi pengetahuan umum saja melainkan dari segi agama. Kita juga perlu mengetahui Jual beli yang sah sesuai syariat Islam. Diantaranya akad jual beli yang benar, mengenai hukum utang piutang, dan riba.
Jika seseorang hendak beramal juga dianjurkan untuk mengetahui ilmunya agar amalan yang dilakukan tidak sia-sia dan membawa kemudharatan. Maka manusia hendaklah menuntut ilmu di jalan yang benar, yang diridhai Allah SWT, dan ilmu yang bermanfaat kemudian ilmu yang didapatkan hendaknya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari maupun kepada orang lain. Agar ilmu tersebut tetap mengalir pahalanya dan tidak akan mengurangi pahala bagi orang yang mengamalkannya.
Diriwayatkan dari sahabat Mu’ad bin Jabal Radliyallahu Anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda “Belajarlah atau tuntutlah ilmu karena belajar yang ikhlas karena Allah, itu dicatat sebagai kebaikan. Mempelajari atau mengkaji ulang termasuk bertasbih dan membahas ilmu termasuk jihad, mencari ilmu termasuk ibadah, mengajarkannya termasuk shodaqoh. Menyebarkannya ilmu kepada keluarganya dicatat sebagai berkurban /pendekatan. Berpikir tentang ilmu seperti berpuasa dan mengingat-ingat ilmu itu seperti sholat pada waktu malam”.

Sungguh mulia orang yang berilmu dan mau mengamalkannya. Menuntut ilmu itu tidak ada batasnya terutama ilmu agama. Kita harus menjadi generasi bangsa yang cerdas dan berilmu serta mau mengamalkan ilmu yang kita dapatkan dalam kehidupan kita dan kepada sesama makhluk. Semangat menuntut ilmu.

No comments:

Post a Comment

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com