Oleh :
Chamilul Hikam Al Karim
“Dan (ingatlah) tatkala Rabbmu berkata kepada
malaikat , ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah’. Berkata
mereka, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya
dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan
memuliakan Engkau?’. Dia berkata,
‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al Baqarah : 30)
Berdasarkan ayat tersebut, manusia diberikan
“mandat” sebagai khalifah
(pengganti). Sebelum adanya manusia sudah ada makhluk lain yang menghuni bumi
namun, makhluk-makhluk ini berbuat kerusakan. Hadirnya manusia sebagai khalifah
tentunya adalah sebagai pengganti dari makhluk-makhluk perusak dan menjadi
makhluk yang memelihara bumi. Pada ayat yang lain Allah berfirman yang artinya:
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu
membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami
orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah
orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12) (muslim.or.id).
Secara tersurat Allah SWT menyebutkan bahwa
seringkali manusia berbuat kerusakan namun tidak sadar, misalnya membuang
sampah yang walaupun terlihat kecil di sungai atau aliran air, mungkin dianggap
sepele namun lama-kelamaan akan menjadi kerusakan juga. Bahkan Allah sudah menegaskan dalam surat asy-Syuura ayat ke-30 yang
menyatakan bahwa berbagai bencana yang terjadi adalah akibat ulah manusia itu
sendiri baik itu kerusakan berupa maksiat dengan merusak alam maupun tidak
menjalankan perintah Allah. Seharusnya dengan ayat ayat yang telah disebutkan
diatas kita perlu berkaca lagi, apakah kita termasuk makhluk yang berbuat
kerusakan atau makhluk yang melakukan perbaikan diatas muka bumi ini.

No comments:
Post a Comment