Manusia?


Oleh:
Silvia Zen

Hasil gambar untuk Manusia black and white

Manusia macam apa kau ini?
            Yang menjadikan agama sebagai sajadah di jalan-jalan kehidupan
            Yang membunyikan lonceng kedurjanaan di setiap zaman
            Yang meruntuhkan aturan dan bengawan kesopanan
Manusia macam apa kau ini?
Manusia yang merasa bisa menjadi penguasa
Dan penguasa yang tidak bisa merasa menjadi manusia
Penguasa yang tak mengerti di mana menghunuskan pedangnya
            Ahh, dasar manusia si penguasa!
Manusia macam apa kau ini?
            Ketika bibit kesabaran yang tumbuh subur itu hancur
            Dahan-dahan kearifan melebur
            Hanya karena kepentingan semata
            Seketika kau sendiri yang murka
Manusia macam apa lagi kau ini?
Ketika ibu pertiwi sudah tak direpotkan
tuk menghiasi kepemilikannya
waktu yang pupus di alam dunia
membawa raga menuju alam fana
sementara, seorang bayi menangis kehilangan
merindukan air susu surga
Hei Kau! Yang mengaku manusia!
Karena keangkuhan mu
kau sudah menodai jejak-Nya di alam semesta
Kemudian, kau cuci tangan mu dan kaki mu
menghanyutkan abu kejahatan dan kemungkaran
Lalu, sajadah itu kau hamparkan
seraya mengucap
“Ya Allah, ampuni hamba!”

Semarang, 2019

0

Bumi

  
Oleh : 
Chamilul Hikam Al Karim

Hasil gambar untuk Bumi

Bumi, ya itulah nama tempat kita tinggal. Bumi menjadi satu-satunya planet yang dapat ditinggali sedangkan, planet yang lain tidak bisa ditinggali. Ada beberapa hal yang membuat bumi jadi layak huni, yaitu karena bumi memiliki lapisan ozon (O3) yang menghalau radiasi ultraviolet dari sinar matahari yang dapat memnyebabkan berbagai permasalahan seperti, kanker kulit, katarak, dan mengganggu pertumbuhan tanaman (Idntimes.com). bumi juga memiliki jarak yang “pas” dengan matahari yaitu tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Jika bumi terlalu dekat dengan matahari maka air di bumi akan menguap di atmosfer sedangkan jika terlalu jauh maka airnya akan membeku sehingga jarak yang “pas” memungkinkan adanya air berbentuk cair. Anugrah besar yang diberikan oleh Allah SWT tentu harus kita syukuri. Wujud syukur yang bisa kita lakukan selain ucapan hamdallah adalah merawat dan menjaga kelestarian dari bumi itu sendiri. Allah telah berfirman yang artinya:
“Dan (ingatlah) tatkala Rabbmu berkata kepada malaikat , ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah’. Berkata mereka, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau?’. Dia berkata, ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al Baqarah : 30)
Berdasarkan ayat tersebut, manusia diberikan “mandat” sebagai khalifah (pengganti). Sebelum adanya manusia sudah ada makhluk lain yang menghuni bumi namun, makhluk-makhluk ini berbuat kerusakan. Hadirnya manusia sebagai khalifah tentunya adalah sebagai pengganti dari makhluk-makhluk perusak dan menjadi makhluk yang memelihara bumi. Pada ayat yang lain Allah berfirman yang artinya:
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12) (muslim.or.id).
Secara tersurat Allah SWT menyebutkan bahwa seringkali manusia berbuat kerusakan namun tidak sadar, misalnya membuang sampah yang walaupun terlihat kecil di sungai atau aliran air, mungkin dianggap sepele namun lama-kelamaan akan menjadi kerusakan juga. Bahkan Allah sudah menegaskan dalam surat asy-Syuura ayat ke-30 yang menyatakan bahwa berbagai bencana yang terjadi adalah akibat ulah manusia itu sendiri baik itu kerusakan berupa maksiat dengan merusak alam maupun tidak menjalankan perintah Allah. Seharusnya dengan ayat ayat yang telah disebutkan diatas kita perlu berkaca lagi, apakah kita termasuk makhluk yang berbuat kerusakan atau makhluk yang melakukan perbaikan diatas muka bumi ini.



0

Untuk apa Hidupmu saat ini ???



Untuk apa Hidupmu saat ini ???

Hai sahabat, pernahkah anda mendapat pertanyaan “Untuk apa hidupmu di dunia ini?”. Ya, pertanyaan yang kerap muncul di benak dan hati kita. Mungkin akan muncul berbagai argumen dan jawaban terkait pertanyaan tersebut, lantas apakah anda sudah mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut? dan apakah anda sudah yakin dengan jawaban anda ?, apakah anda sudah melaksanakannya?. Mari kita kaji bersama.
Ketahuilah sahabat, bahwasanya Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah (pemimpin)  dimuka bumi, dan untuk beribadah kepadanya. Manusia merupakan makhluk yang diciptakan tuhan dengan kemampuan yang berbeda dan lebih baik dari makhluk lain. Manusia diberi akal pikiran, nurani, nafsu dan kemampuan lain oleh Allah SWT. Allah memberikan kemampuan tersebut untuk digunakan sebaik mungkin. Allah sebagai pencipta alam semesta dan seluruh jagat raya ini untuk kehidupan manusia, maka sudah seharusnya manusia melaksanakan tugasnya dengan kemampuan yang sudah dianugerahkan oleh Allah SWT.
Pada zaman jahiliyah, banyak manusia hidup dalam kebodohan, kegelapan hampir tak memiliki arah karena pada zaman tersebut masih banyak manusia yang menjadi budak, banyak anak perempuan yang dibunuh karena dianggap tidak berguna dan tidak bisa berperang. Zaman jahiliyah (zaman kebodohan, kegelapan) dimana banyak manusia yang menjadi budak belum merdeka, sering terjadi peperangan. Masa yang penuh dengan keprihatinan dan penderitaan, hanya orang-orang tertentu yang berkuasa yang hidup sesuai keinginan mereka. Maka Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai khalifah di muka bumi yang telah membawa manusia dari zaman jahiliyah sampai di zaman yang terang benderang. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW sebagai pedoman umat dan mengatur kehidupan manusia di dunia.
            Sungguh besar perjuangan Rasulullah semasa hidupnya di zaman jahiliyah, beliau berjuang, berdakwah dengan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa, dengan sifat wajib Rasul yakni Siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas). Setelah Rasulullah SAW wafat, diteruskan oleh para sahabat-sahabat beliau, kemudian Tabi’in, tabi’in-tabi’in, dan ulama dalam mendakwahkan Agama Islam dan menyebarkan atau mengamalkan ilmu pengetahuan.
Para pahlawan juga sudah berjuang melawan penjajah, dengan perjuangan yang tidak mudah dan atas Ridha Allah SWT akhirnya Indonesia merdeka. Tentu kita sebagai generasi bangsa harus bisa menjaga negara Indonesia ini, NKRI harga mati !. Maka kita sebagai umat yang hidup di zaman globalisasi ini apakah masih mau bertahan dengan kebodohan? Jahiliyah?. Tentu tidak mau bukan?, Kita hidup di zaman yang modern dimana ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang pesat maka kuncinya adalah dengan “Menuntut ilmu” , ya, terutama menuntut ilmu di jalan Allah SWT, menuntut ilmu agama. Kita diwajibkan untuk menuntut ilmu Sesuai dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr:   
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslimin dan muslimat (H.R. Ibnu Abdil Barr)”
Sudah jelas dalam hadits tesebut, bahwasannya manusia diwajibkan menuntut ilmu, karena dengan ilmu hidup kita akan lebih terarah, teratur dan kita dapat mengerti mana yang baik dan buruk, mana yang halal dan haram. Misalnya ilmu mengenai hukum jual beli, dalam ilmu pengetahuan umum dibahaslah dalam ilmu ekonomi, namun, kita juga tidak boleh hanya mengetahui ilmu ekonomi dari segi pengetahuan umum saja melainkan dari segi agama. Kita juga perlu mengetahui Jual beli yang sah sesuai syariat Islam. Diantaranya akad jual beli yang benar, mengenai hukum utang piutang, dan riba.
Jika seseorang hendak beramal juga dianjurkan untuk mengetahui ilmunya agar amalan yang dilakukan tidak sia-sia dan membawa kemudharatan. Maka manusia hendaklah menuntut ilmu di jalan yang benar, yang diridhai Allah SWT, dan ilmu yang bermanfaat kemudian ilmu yang didapatkan hendaknya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari maupun kepada orang lain. Agar ilmu tersebut tetap mengalir pahalanya dan tidak akan mengurangi pahala bagi orang yang mengamalkannya.
Diriwayatkan dari sahabat Mu’ad bin Jabal Radliyallahu Anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda “Belajarlah atau tuntutlah ilmu karena belajar yang ikhlas karena Allah, itu dicatat sebagai kebaikan. Mempelajari atau mengkaji ulang termasuk bertasbih dan membahas ilmu termasuk jihad, mencari ilmu termasuk ibadah, mengajarkannya termasuk shodaqoh. Menyebarkannya ilmu kepada keluarganya dicatat sebagai berkurban /pendekatan. Berpikir tentang ilmu seperti berpuasa dan mengingat-ingat ilmu itu seperti sholat pada waktu malam”.

Sungguh mulia orang yang berilmu dan mau mengamalkannya. Menuntut ilmu itu tidak ada batasnya terutama ilmu agama. Kita harus menjadi generasi bangsa yang cerdas dan berilmu serta mau mengamalkan ilmu yang kita dapatkan dalam kehidupan kita dan kepada sesama makhluk. Semangat menuntut ilmu.
0

Selalu ada Niat dalam Menuntut Ilmu



Selalu ada Niat dalam Menuntut Ilmu

Ilmu adalah suatu pengetahuan yang di miliki setiap orang guna sebagai pedoman hidup  atau bekal hidup di dunia bagi setiap orang. Dalam menuntut ilmu seseorang tidak dapat berlaku sesukanya. Dalam hidup di dunia yang sementara dan fana ini setiap orang juga tidak dapat selalu mengandalkan ilmu umum yang sudah diperolehnya namun juga harus diperkuat dengan ilmu agama. Mengapa harus ada ilmu agama, karena ketika seseorang hanya memiliki ilmu umum tanpa memiliki ilmu agama hidup di dunia tersebut tidak akan bermakna apapun. Sehingga setiap orang harus memiliki ilmu agama.
Dalam mencari ilmu juga banyak manfaat yang akan dapat diperoleh dengan mempelajari Al-Qur’an dan sunnah serta memahami makna kandungannya. Orang yang memiliki ilmu akan mengetahui benar atau tidaknya suatu perkara. Maka ilmu adalah perkara mulia yang hendaknya menjadi perhatian setiap muslim, perkara yang harus diutamakan. Karena ilmu lebih didahulukan dibandingkan dengan perkataan dan perbuatan. Apapun yang akan setiap orang lakukan maka harus dibarengi dengan niat beribadah kepada Allah SWT agar tetap mendapat ilmu namun juga mendapat pahala tentunya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (H.R Muslim)
Ilmu dapat diperoleh secara indrawi ataupun maknawi. Secara indrawi yaitu seseorang memperoleh ilmu dengan cara menuju tempat dimana itu ilmu berada dan sejauh apapun tempat tersebut namun tetap di hampirinya. Seperti masjid, sekolah, universitas, dll. Sedangkan secara maknawi yaitu ilmu tidak hanya dapat diperoleh dari sekolah, namun dari kehidupan dunia atau dari orang-orang yang ada di sekitar. Ketika mendapatkan ilmu kita wajib mensyukurinya agar ilmu tersebut bisa berguna untuk kita ataupun untuk orang lain.
 Semakin banyak kita dapat menyebarkannya ilmu tersebut juga makin luas bukan malah akan habis. Barangsiapa menempuh jalan tersebut maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga, karena dengan ilmu agama setiap manusia akan mengerti hukum-hukum Allah SWT. Manusia juga wajib mengetahui syari’at Allah, apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang-Nya, sehingga manusia tersebut ditunjukkan ke jalan yang Allah SWT ridhoi dan yang akan menghantarkan engkau ke jannah. Setiap manusia harus memiliki motivasi yang besar dalam hal apapun, terlebih tentang ilmu karena ilmu yang akan menghantarkan manusia ke jalan yang benar ataupun tidak. Ketika manusia tidak memiliki sedikitpun ilmu agama maka dia tidak memiliki pedoman untuk hidup di dunia maupun di akhirat nantinya.


0

MENUNTUT ILMU KE JALAN ALLAH




MENUNTUT ILMU KE JALAN ALLAH

Dengan adanya suatu ilmu, manusia dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ilmu tidak bisa datang dengan sendirinya. Untuk itu, seseorang yang ingin memiliki ilmu harus berusaha dan berjuang untuk mendapatkan ilmu dari orang-orang yang telah berilmu. Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim. Hal ini terdapat dalam QS. Al Mujadalah ayat 11, yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “berilah kelapangan di dalam majelis, maka lapngkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”
Banyak manfaat yang bisa di dapat dari menuntut ilmu, antara lain:
a.       Pahala orang yang menuntut ilmu sama seperti orang yang berjihad ke jalan Allah.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW :
Orang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada dijalan Allah sehingga ia kembali ke rumahnya” (HR. At-Tirmidzi)
Hadist ini dapat dimaknai bahwa seseorang yang pergi untuk mencari ilmu, maka orang tersebut termasuk orang yang berjuang di jalan Allah.
b.      Seseorang yang menuntut ilmu mendapatkan pahala Haji yang sempurna
Hal ini terdapat dalam hadist yang artinya:
“Barangsiapa yang pergi menuju masjid, dia tidak bermaksud kecuali untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka baginya pahala seperti berhaji sempurna.” (HR. Ath-Thabrani)
c.       Seseorang yang menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya menuju Surga.
Terdapat suatu hadist dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda:
“Dan barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Adapun beberapa adab untuk menuntut ilmu, yaitu:
1.      Meluruskan niat
Niat yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang ingin menuntut ilmu adalah menuntut ilmu karena ingin melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.
2.      Mengawali dan mengakhiri dengan doa
Dalam melakukan sesuatu wajib bagi seorang muslim untuk mengawali dan mengakhiri dengan doa, agar apa yang dilakukan menjadi berkah. Dalam hal ini, sebaiknya mengawali dengan bacaan basmallah dan mengakhiri dengan bacaan hamdallah.
3.      Menghormati guru
Menghormati seorang guru adalah wajib bagi seseorang yang menuntut ilmu karena guru telah memberikan ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai keutamaan dan adab dalam menuntut ilmu. Sebagai muslim, kita harus selalu menuntut ilmu agar menjadi orang-orang yang berilmu.


Sumber:


0

PENGURUS KESPPI 2017 (KABINET DEDIKATIF) #NEWKESPPI2017









0

Pandangan Dunia terhadap Islam



Oleh :
Dwi Aristiawan


Istilah pandangan dunia dapat diterapkan kepada prinsip-prinsip kepercayaan dan ideologi yang dapat digunakan dalam kaitannya dengan hal-hal cabang atau peraturan praktis universal. Walaupun tetap harus dicatat bahwa, pandangan dunia maupun ideologi tidaklah mengandung aspek-aspek partikular dari prinsip-prinsip dan cabang-cabang. Ideologi juga dapat, kadang-kadang tumpang tindih dengan pandangan dunia dan mengandung makna-makna dari pandangan dunia. Islam adalah salah satu Agama yang memiliki penganut terbesar di dunia, sehingga Islam menjadi agama yang mengandalkan massa sebagai faktor utama dalam pengembangannya. Islam mengajarkan ummatnya untuk senantiasa menciptakan kedamaian baik dari individu, keluarga, masyarakat secara nasional bahkan Internasional. Islam juga mengajarkan dan menjunjung tinggi toleransi antara ummat beragama, akan tetapi mengapa dimata dunia, islam adalah agama teroris, dan selalu melakukan teror diseluruh pelosok dunia.
Mungkin ini adalah kesalahan persepsi/pandangan terhadap islam, ataukah ada pihak tertentu yang ingin merusak islam. Dalam masalah ini, kita tidak perlu berfikir tentang kesalahan persepsi maupun pihak yang ingin merusak islam. Yang perlu dilakukan adalah intropeksi diri sejauhmana kita telah berpartisipasi dalam menciptakan perdamaian, baik di dalam lingkungan masyarakat maupun diskala universal. Tidak ada satupun agama di muka bumi ini yang mengajarkan kepada ummatnya untuk melakukan pengrusakan, kerusuhan dan teror. Semua agama mengajarkan untuk senantiasa menciptakan kedamaian dalam hidup. Jika hal itu terjadi, baik pengrusakan maupun teror, itu bukan karena agamanya yang mengajarkan demikian, akan tetapi itu adalah murni kesalahan person yang kebetulan memeluk salah satu agama tertentu. Dengan demikian, islam bukanlah agama teroris, dan aksi teror yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, bahkan di beberapa Negara itu adalah murni kesalahan individu, yang kebetulan mereka memeluk agama islam.
Di era global saat ini, perkembangan studi Hubungan Internasional kerap kali meluas sampai mengkaji Islam dan Dunia Internasional, yang dulunya realis menganggap state sebagai sentrik sebuah konflik, melainkan saat ini kajian isu Internasional seperti isu teroris juga merupakan kajian dari Hubungan Internasional. Sejak terjadinya serangan teroris internasional terhadap gedung WTC di Amerika Serikat pada tahun 2001 dan Pentagon dengan menggunakan pesawat terbang komersil yang menjadi tragedy nasional bagi bangsa dan negara Amerika Serikat. Trauma yang sangat mendalam sebagai akibat aksi dari serangan-serangan terorisme tersebut membuat Amerika Serikat sangat reaksioner dalam sikapnya menghadapi issu terorisme yang berkembang saat ini.
Hampir semua negara di dunia merasa terancam dan meningkatkan keamanannya menanggapi isu tersebut. Hal ini masih belum dirasakan oleh negara-negara Asia Tenggara yang pada saat itu masih menganggap isu teroris hanya terjadi di negara-negara maju seperti halnya Amerika Serikat yang notabenenya bersiteru dengan kelompok Osama Bin Laden. Bukan hanya itu saja, isu teror juga merambah ke kawasan Asia Selatan dengan kelompok Taliban yang sering membuat kerusuhan dan aksi teror sampai akhirnya meluas ke kawasan Timur Tengah. Isu terrorisme, ternyata bukan hanya konsumsi wilayah regional tertentu saja seperti Timur Tengah, namun telah menyebar ke wilayah-wilayah regional lainnya yang memiliki potensi konflik dan instabilitas seperti halnya kawasan regional Asia Tenggara.
Konflik intern di negara kawasan tersebut, bisa saja memancing jaringan internasional untuk melakukan aksi-aksi teror di kawasan tersebut. Sebagai contoh aksi terror yang di lakukan oleh gerilyawan Moro di Philipina Selatan. Pada perkembangannya dinilai dapat membahayakan keselamatan warga dan kepentingan AS di kawasan Asia Tenggara. Kemudian di Singapura 25 anggota Jemaah Islamiyah, di Malaysia dan Singapura di duga merupakan suatu jaringan terorisme internasional yang terkait dengan jaringan Al-Qaidah pimpinan Osama Bin Laden. Bersama penangkapan tersebut ditemukan beberapa dokumen yang berisi rencana penyerangan terhadap kepentingan-kepentingan AS di Asia Tenggara seperti di Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Selanjutnya ledakan kecil di sekitar konsulat AS di Bali, kemudian hal ini semakin membuat kawasan tersebut rawan terhadap isu serangan aksi teroris. Islam sering dicitrakan dengan: kebrutalan, terorisme, fundamentalisme, fanatisme, kebencian, dan kekacauan. Beberapa kejadian terorisme akhir-akhir ini terjadi di Indonesia dan pelakunya hampir semuanya orang-orang Islam. Kalangan Barat (orientalis) selalu mengaitkan aktivitas terorisme dengan Islam. Sebagian umat Islam memiliki faham yang tidak benar tentang ajaran Islam, misalnya tentang konsep jihad. Di antara penyebab munculnya aktivitas “terorisme” dalam Islam adalah salah faham tentang jihad.
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com